Tradisi Ngelawar Lawar Plek di Gianyar: Perspektif Etnopedagogi Pendidikan

Authors

  • A.A. Diah Indrayani Universitas Pendidikan Ganesha
  • I Wayan Artika Indonesia

Keywords:

Etnopedagogi; Ngelawar Lawar Plek; Ngayah; Grhastha Ashrama; Budaya Bali

Abstract

Tradisi ngelawar lawar plek di Kabupaten Gianyar merupakan praktik budaya yang hidup dan berkelanjutan dalam kehidupan sosial masyarakat Bali. Praktik ini tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari rangkaian upacara keagamaan, tetapi juga menjadi ruang terjadinya proses pendidikan berbasis budaya yang berlangsung secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi ngelawar lawar plek dari perspektif etnopedagogi, dengan menekankan bagaimana proses pendidikan terjadi dalam konteks sosial, khususnya melalui keterlibatan laki-laki yang telah memasuki fase grhastha ashrama dalam kegiatan ngayah di pura dan banjar.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi non-partisipatif dan studi pustaka. Data dianalisis secara deskriptif-interpretatif untuk memahami makna, nilai, dan mekanisme pembelajaran yang terkandung dalam praktik ngelawar. Hasil kajian menunjukkan bahwa ngelawar lawar plek berfungsi sebagai praktik etnopedagogi yang hidup, di mana proses pendidikan berlangsung melalui keteladanan, keterlibatan langsung, dan internalisasi nilai-nilai budaya. Fase grhastha ashrama memainkan peran sentral sebagai agen transmisi budaya yang menjaga keberlanjutan nilai tanggung jawab kolektif, gotong royong, etika sosial, dan kesadaran spiritual.Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan dalam masyarakat Bali tidak selalu terlembagakan secara formal, melainkan menyatu dengan praktik adat dan religius yang dijalani secara kolektif. Tradisi ngelawar lawar plek memperlihatkan bahwa etnopedagogi berfungsi sebagai mekanisme pewarisan nilai dan pengetahuan budaya yang autentik, adaptif, dan berakar kuat pada kehidupan sosial masyarakat Gianyar.

References

Atmadja, N. B., & Arniati, I. A. K. (2016). Sosiologi pendidikan: Perspektif budaya dan kekuasaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bandem, I. M., & deBoer, F. E. (2004). Kaja dan kelod: Tarian Bali dalam tradisi. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta.

Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. New York: Basic Books.

Geertz, H. (1980). The religion of Java. Chicago: University of Chicago Press.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi (Edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Lave, J., & Wenger, E. (1991). Situated learning: Legitimate peripheral participation. Cambridge: Cambridge University Press.

Made, I. N. (2012). Ngayah sebagai sistem nilai dalam kehidupan masyarakat Bali. Denpasar: Pustaka Bali Post.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage.

Parisada Hindu Dharma Indonesia. (2014). Tattwa Hindu: Catur āśrama dan implementasinya dalam kehidupan umat. Denpasar: PHDI Bali.

Sibarani, R. (2012). Kearifan lokal: Hakikat, peran, dan metode tradisi lisan. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.

Spradley, J. P. (1980). Participant observation. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Suastra, I. W. (2010). Budaya Bali dalam perspektif pendidikan dan sosial. Denpasar: Udayana University Press.

Triguna, Y. (1997). Masyarakat Bali dan pembangunan budaya. Denpasar: Bali Post.

Wiana, I. K. (2004). Makna upacara yajña dalam agama Hindu. Surabaya: Paramita.

Wenger, E. (1998). Communities of practice: Learning, meaning, and identity. Cambridge: Cambridge University Press.

Downloads

Published

2026-08-11

How to Cite

Indrayani, A. D., & Artika, I. W. (2026). Tradisi Ngelawar Lawar Plek di Gianyar: Perspektif Etnopedagogi Pendidikan. JoLES: Journal of Language, Education, and Social Science, 1(2), 92–107. Retrieved from https://journal.amalis.org/index.php/joles/article/view/29